Search

16.5.11

Enjoy Imprealism

Silahkan nikmati berbagai produk murah, tapi jangan salah, kita merelakan diri dijajah.

Dalam konteks kontemporer, kerja sama antar negara tidak terpengaruh stigma ideologi. Berbeda halnya pada dekade setelah berakhirnya era kolonialisme. Seperti ASEAN, pendiriannya berkaitan erat dengan perubahan drastis peta politik di kawasan Asia Tenggara, yakni setelah usai perang Vietnam, dengan ditariknya tentara Inggris dari Asia Tenggara sebagai kekuatan pelindung. Begitu idealnya treaty of amity and cooperation yang tercatat dalam Declaration of ASEAN Concord, yakni mendorong kerja sama regional dan memperkuat stabilitas ekonomi dan sosial, terutama kerja sama di bidang bahan mentah, pangan dan energi, pembangunan bersama proyek-proyek industri besar, dan kemudahan bea untuk mendorong perdagangan sesama negara anggota.

Akan tetapi, hasil integrasi ekonomi negara-negara ASEAN melalui penjaminan preferensi bea, hingga saat ini belum menghasilkan kemajuan yang berarti. Penyebab utamanya struktur ekspor yang ada di masing-masing negara dan perbedaan tingkat kemajuan diantara sesama negara anggota. Kepentingan melindungi perekonomian dalam negeri sendiri lebih diutamakan daripada keuntungan yang dapat diperoleh dari peningkatan pembagian kerja regional.

Baru sejak Januari 2010 ini, peleburan ekonomi ASEAN baru menemukan pola dengan menciptakan kesepakatan perdagangan bebas dengan satu negara, yakni Cina. Namun ternyata, ACFTA malah menjadikan Cina menjadikan ASEAN sebagai pasar bagi kelebihan produksinya.

Sebagai contoh, produksi buah-buahan Cina terus meningkat masuk ke Indonesia. Data Kementerian Pertanian (2009), pada 2007 impor buah-buahan sebesar USD 449,1 juta, 2008 USD 474,1 juta, sementara pada Desember 2009 impor buah-buahan dari Cina tersebut meningkat 1,5 kali jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (USD 42,45 juta).

Ekonomi Indonesia semakin di dominasi investasi asing. Secara akumulatif, Cina merupakan negara penanam modal terbesar nomor 5 di Indonesia, dengan nilai USD 8 miliar. Beberapa perusahaan negeri Tiongkok itu seperti Cina National Offshore Oli Corporation (CNOOC), Petro Cina, Alcatel Shanghai, CITIC, Haier, KONKA, Huawei Technology, ZTE Corporation, dan Cina Railways Engineering Corporation dan lain sebagainya telah menanamkan modalnya di Indonesia.

Tidak hanya itu, sumber daya alam Indonesia akan semakin terkuras oleh investasi asal Cina. Sebagai contoh supply LNG dari Tangguh Indonesia bagi Provinsi Fujian sebesar 2,6 juta ton/tahun akan berlangsung selama 25 tahun dengan harga jual dibawah rata-rata harga pasar. Keadaan ini akan semakin memperparah krisis energi yang saat ini menjadi masalah utama yang dihadapi rakyat Indonesia.

Kapan Indonesia bisa menjaga kedaulatannya? Apakah belum cukup perdagangan dengan negara lain terus-menerus merugikan alam dan bangsa Indonesia. Padahal sudah dari dulu perdagangan Indonesia selalu timpang. Berlimpahnya kandungan mineral di bumi Indonesia, di mata dunia menjadikannya pemilik peringkat 3 penghasil tembaga, peringkat 2 timah, peringkat 6 penghasil nikel, peringkat 8 penghasil emas, peringkat 6 penghasil gas alam, dan peringkat 9 penghasil batubara. Cadangan minyak minimalnya mencapai 600 juta barel dan 2 triliun kaki kubik gas per tahun, maka pada harga minyak 60 dolar per barel dan gas 3 dolar per MMBTU, nilainya sekitar Rp 387 triliun.

Seandainya unsur politik tidak memberikan tendensi pada kerja sama ekonomi dan pertukaran dalam perdagangan, niscaya Indonesia tidak menjual komoditas tersebut sebagai bahan mentah, melainkan produk akhir. Dengan asumsi harga minyak 90 dolar per barel dan harga gas 15 dolar per MMBTU, maka perolehan Indonesia dari kilangnya di Blok Cepu mencapai Rp 576 triliun. Apalagi jika harga minyak terus naik diatas 100 dolar per barel seperti yang pernah terjadi pada 2008.

Ternyata dari 1 juta barel produksi minyak per hari, hanya 70 ribu barel yang diproduksi oleh perusahaan negara, sekitar 75 ribu barel produksi dikelola oleh perusahaan domestiknya, sementara sisanya sebanyak 855 ribu barel per hari (hampir 90%) dipegang perusahaan asing. Tidak jauh berbeda Indonesia dirugikan Rp 350 triliun dari harga kontrak penjualan Liquid Natural Gas (LNG) Tangguh ke Fujian–Cina sebesar 2,6 juta ton per tahun dengan harga US$ 3,35 per MMBTU selama 25 tahun.

Paling tidak kita bertanya ulang, ACFTA bukanlah proses pendewasaan menuju perdagangan global, ini bukti persaingan, di mana negara yang kuat akan mendominasi negara lain. Sementara negara yang lemah, semakin dilemahkan. Kebangkitan ekonomi Cina bukanlah ikon kebangkitan ekonomi Asia. Tetapi menjadi komprador bagi tetangganya.

Bagaimana dengan masyarakat Indonesia? Kita yang merangkak mapan, menunjukkan identitas diri atas barang yang kita konsumsi. Kita mulai terbiasa memuja komoditas asing sebagai tujuan hidup kita. Betapa tidak tergiurnya kita, melihat produk murah di iklan. Akankah kita selamanya disogokkan produk-produk luar? Produk Cina?

0 komentar:

Posting Komentar