Bumi memberikan cukup setiap kebutuhan manusia tapi bukan untuk ketamakan manusia.
- Mahatma Gandhi -
Bumi telah makin renta, terbebani aktivitas hidup yang berada dipermukaannya, terlebih aktivitas spesies yang dikatakan paling sempurna, karena dianggap memiliki akal pikiran, yang mampu menciptakan budaya dan peradaban, spesies itulah, Homo Sapien, bangsa manusia, kita. Lewat kecerdasannya manusia mencipta beraneka rupa alat-alat, benda-benda juga bahan-bahan yang akhirnya merubah wajah bumi hingga hari ini.
Spesies kita membiak begitu pesat, hingga akhirnya harus memaksa kita merubah segala sesuatu yang ada di permukaan maupun di perut bumi agar dapat bertahan hidup. Mulai dari membabat pohon, merekayasa gen, menyedot minyak dan gas, mendirikan instaliasi pembangkit listrik tenaga nuklir, hingga mencipta senjata-senjata mematikan.
Di Indonesia saja, tiap tahunnya hutan dibabat rata-rata seluas 2 juta hektar. Bahkan di tahun 2006, lebih dari 2,72 juta hektar hutan alami musnah, area seluas itu setara dengan satu setengah kali luas Netherland atau empat kali luas Pulau Bali. Kerakusan ini belum termasuk kepunahan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya.
Illegal logging seringkali dituding sebagai penyebab hilangnya tutupan hutan Indonesia. Padahal, berdasar penelitian Green Peace Indonesia, penyebabnya adalah ulah rakus pemegang HPH melakukan aktifitas konversi lahan hutan untuk perkebunan.
Perkebunan sawit sekarang menggantikan lebatnya hutan hujan tropis yang untuk ada di butuhkan ratusan hingga ribuan tahun lamanya. Pada 2004, 15,9 juta hektar hutan tersebut harus musnah, dan sialnya hanya 5,5 juta hektar yang dijadikan perkebunan sawit, sisanya dibiarkan gundul begitu saja. Bahkan di tahun 2006, setelah 16,8 juta hektar hutan dibabat habis hanya 6,7 juta hektar saja yang menjadi perkebunan sawit. Lebih menyakitkan lagi, pembersihan lahan yang akan digunakan untuk perkebunan sawit dilakukan dengan cara-cara keji, yakni dengan cara membakarnya tanpa peduli pada sisa spesies penghuni hutan yang mungkin masih selamat dari aktivitas penebangan. Asap pembakaran itu menjadi kabut asap yang memuat racun CO dan Co2.
Hilangnya hutan hujan tropis sebagai penyangga ekologi bumi menyebabkan kacaunya keseimbangan alam, yang dapat memicu datangnya gelombang bencana, entah itu banjir, kekeringan, longsor, cuaca ekstrim dan berbagai bencana lainnya.
Mengingat bahaya yang begitu besar, ternyata alih fungsi ini tidak pernah dipermasalahkan negara, karena sawit dianggap komoditas primadona dunia saat ini, yang bisa meningkatkan pendapatan nasional. sikap Acuh tersebut seakan memperoleh legitimasi dari dunia, terutama Amerika serikat yang gemar mengkampanyekan penggunaan bahan bakar fosil ke biofeul maupun bioethanol sebagai jawaban atas pemanasan global. kampanye ini disebarluaskan melalui Lembaga perdagangan dan keuangannya.
Musnahnya hutan di Indonesia tidak hanya berakibat buruk pada rakyat indonesia tapi juga dunia, sebab dengan hilangnya hutan, gas rumah kaca bertebaran dan terjebak dalam atmosfir tanpa ada yang meyerapnya, hal ini menyebabkan panas sinar matahari yang seharusnya mampu dilepaskan ke angkasa terhalang oleh gas ini. Dimana fenomena ini sering disebut dengan Global Warming.
Otoritas negara yang seharusnya mampu menjawab persolan itu melalui kebijakannya, malah menjadi sumber persoalan bagi keberlangsungan kehidupan di bumi, seperti kebijakan konversi lahan hutan untuk biofeul atau bioethanol hingga kebijkan energi nuklir.
Mungkin kita perlu merumuskan kembali masa depan global bersama-sama, dengan lebih arif dan bijaksana selaras dengan alunan harmoni alam semesta, penuh keseimbangan dan kehati-hatian. Jangan sampai masa depan kita dan semesta, tak lebih dari sekedar kengerian belaka.

0 komentar:
Posting Komentar